This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 8

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 7

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

1.3.a.10.2. JURNAL REFLEKSI - MINGGU 6

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minngu Ke -3

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 5

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Mingguan Ke - 12

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

Jurnal Refleksi Mingguan Ke - 15


Pada tugas Refleksi Mingguan ke – 15, dalam kegiatan CGP saya menggunakan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Model 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Model refleksi 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P dengan pernyataan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal)

Model 4F

1.     Facts (Peristiwa)

Pada Minggu ini CGP memasuki modul 2.3 Coaching tepatnya pada hari Senin, 28 Maret 2022 adalah 2.3.a.6. Refleksi Terbimbing – Memahami Lebih Dalam Teknik Coaching  yang Efektif  Dalam Optimalisasi Pengembangan Kompetensi Pendidik dan Murid, dalam modul ini saya dan CGP lainnya menjawab 6 pertanyaan. Pada hari Selasa dan Rabu, 29 dan 30 Maret 2022 adalah 2.3.a.7. Demontrasi Kontekstual – Pendampingan Murid dengan Pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah Saya, dimana pada modul ini saya melakukan ke melakukan praktik kegiatan Coaching dengan Model TIRTA bersama murid saya di sekolah dan di lanjutkan pada hari Kamis, 31 Maret 2022 adalah 2.3.a.8. Elaborasi Pemahaman Coaching melalui kegiatan Web Meeting dengan Instruktur Indri Nurcahyani.

2.     Feelings  (Perasaan)

Perasaan saya senang dan bahagia karena dapat mengikuti sesi Coaching pada latihan dan praktik Coaching bersama CGP  yaitu baik pada saat bertindak sebagai Coach, Coachee maupun pada saat sebagai pengamat, hal ini sangat tertang buat saya walaupun saya sebagai guru Bimbingan dan Konseling di sekolah baru pertama kali melakukan praktik Coaching atau model TIRTA ini, setelah melakukan sesi Coaching bersama CGP dan melanjutkn praktik Coaching bersama murid saya semakin paham dan mengerti sehingga saya dapat melakukan proses Coaching baik kepada murid maupun terhadap guru di sekolah.

 3.     Findings (Pembelajaran)

Pelajaran yang saya dapatkan dalam proses Coaching ini saya semakin mengetahui teknik Coaching dengan baik. Bagaimana membuat pertanyaan umpan balik  yang membuat seorang Coachee semakin terbuka dan memikirkan sendiri tentang cara menemukan ide dan berupaya membuat Coachee senyaman mungkin selama proses Coaching. Dalam melakukan praktik Coaching ini saya akan berupaya menjadi Coach yang baik dan selalu memahami masalah-masalah yang sedang oleh Coachee  sehingga proses Coaching ini dapat dilakukan sesuai dengan model TIRTA sesuai dengan pembelajaran yang telah dikukan bersama dalam modul 2.3 tentang Coaching.

 4.     Future (Penerapan)

Rencana selanjutnya yang ingin saya lakukan menerapkan keterampilan Coaching model TIRTA dengan berupaya membedakan pendekatan teknik Konseling. Setelah saya melakukan Praktik Coaching bersama murid saya di sekolah dengan dilanjutkan Praktik baik di Elaborasi Pemahaman Coaching melalui kegiatan Web Meeting dengan Instruktur Indri Nurcahyani saya semakin yakin dan bisa melakukan Coaching di sekolah saya dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sedang di hadapi oleh murid, teman sejawat, orang tua murid. Selanjutnya saya akan berbagi ilmu pengetahuan kepada rekan guru di sekolah tentang keterampilan Coaching model TIRTA.


JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 4


1.2.A. NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

1.2.a.5. Ruang Kolaborasi Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak - Diskusi Mandiri

1.2.a.5.1. Ruang Kolaborasi Nilai dan Peran Guru Penggerak – Presentasi

1.2.a.5.2 Ruang Kolaborasi - Unggah Tugas Nilai dan Peran Guru Penggerak

1.2.a.6. Refleksi Terbimbing – Nilai dan Peran Guru Penggerak

1.2.a.7. Demonstrasi Konstektual - Nilai dan Peran Guru Penggerak


1.      Setelah Saya mempelajari pada modul ini pada minggu ini, saya bisa mengetahui dan pemahami tentang hubungan antara Profil Pelajaran Pancasila, Nilai-nilai dan Perang Guru Penggerak

a.      Profil Pelajar Pancasila

1.      Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia

2.      Mandiri

3.      Gotong-Royong

4.      Berkebinekaan Global

5.      Bernalar Kritis

6.      Kreatif 

b.      Nilai-Nilai Guru Penggerak:

1.      Mandiri

2.      Kolaboratif

3.      Berpusat Pada Murid

4.      Inovatif

5.      Reflektif

c.       Peran Guru Penggerak:

 

2.     Setelah Saya mempelajari pada modul ini pada minggu ini, saya baru bisa memahami tentang nilai-nilai Guru Penggerak yaitu:

1.      Mandiri adalah Nilai mandiri dalam hal ini senantiasa mengembangkan potensi diri tanpa bergantung pada orang lain.

2.      Kolaboratif Dalam berkolaborasi saya selalu menjaga komunikasi dan hubungan kerjasama positif terhadap teman sejawat.Demikian pula dalam hal tindakan perbaikan tentang permasalahan-permasalahan yang dialami oleh murid, selalu berdiskusi dengan dengan teman sejawat, namun belum maksimal. 

3.      Berpusat Pada Murid

4.      Inovatif

5.      Reflektif Nilai reflektif dalam hal ini saya senantiasa menyadari diri, introfeksi diri terhadap perubahan melalui praktik baik  dengan selalu membuka diri, jujur terhadap kekurangan, intropeksi diri terhadap tindakan yang telah saya lakukan sebagai evaluasi untuk perbaikan tindakan selanjutnya. 

4. Perasaan saya setelah melakukan pembelajaran minggu ini  adalah senang dan bangga karena akan menjadi bagian dari agen perubahan dan ekosistem pendidikan dan semangat dalam berinovasi

Saya sebagai Guru Penggerak harus lebih giat dalam melakukan perubahan pendidikan, mulai dari sendiri demi mewujudkan merdeka belajar


By Ahmad

#Pendidikangurupenggerak

#Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan

 

 


JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

JURNAL REFLEKSI  MINGGU KE 1


Jumat, 15 Oktober 2021 “ Eksplorasi Konsep” (Refleksi diri tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara)

Membaca Modul 1.1 dan mengerjakan tugas pada pada LMS 1.1.a.4 “ Refleksi Diri Tentang Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, sebelum mengerjakan LSM  saya membaca dan menikmati video menarik yang sangat impressif dan bernilai,  adapun bagian pada LMS pembelajaran pada modul ini tentang :

1. Pengantar

2. Potret Pendidikan Indonesia sejak zaman colonial hingga kini

3. Tanggapan Reflektif

4. Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

5. Dasar-dasar pendidikan

6. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

7. Budi Pekerti

8. Dasar-dasar Pendidikan

9. Metode Montesori, Frober dan Taman Anak

10. Kerangka pemikiran KHD

11. Tanggapan reflektif kritis

Pada tahan selanjutnya kami diwajibkan membuat semacam testimony Refleksi Kritis berupa audio atau video 2 s.d 3 (maksimal 4 menit) lewat HP saja (supaya kecil Byte nya), kemudian kami kirim tautan/link file yang telah diunggah tersebut ke pada kolom NOTES yang ada dibagian YOUR NOTES AND QUESTION. Pada saat pengiriman video kami bisa melihat hasil karya dari kawan-kawan CGP lain yang Isi audio/ vidionya :

1. Apakah intisari pemikiran KH Dewantara tentang pendidikan?  

2. Ceritakan proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KH Dewantara?

3. Apa yang akan lakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD dapat terwujud?

4. Dari konsep pemikiran KHD tersebut, mana yang sudah Anda terapkan?


Selasa, 19 Oktober 2021, “Eksplorasi Konsep – Forum diskusi (bersama Instruktur)

Pada sore kami mengadakan vicon di kegiatan 1.1.a.4.1. Forum Diskusi Refleksi Kritis tentang Pemikiran KHD di Ruang Diskusi Virtual. Kita akan bersama instruktur pada pukul 15.30 s.d 17.00 WITA memberikan perspektif refleksi kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi kami berlatih membangun kerangka berpikir dan menyampaikan ide serta gagasan berdasarkan pemahaman dan internalisasi konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam ruang diskusi virtual. Dalam diskusi di forum diskusi virtual, Instruktur memberikan penguatan pemahaman konsep pemikiran filosofis KHD dan melatih kami dan lebih saksama memaknai dan menghayati pemikiran KHD dan bagaimana penerapannya pada konteks lokal sosial budaya di daerah kami. Memulai Eksplorasi Konsep melalui forum diskusi di ruang ‘virtual’, kami dan kawan-kawan Calon Guru Penggerak diberikan pertanyaan reflektif terkait pemahaman mengenai pemikiran filosofis KHD. Pertanyaan pemantik berikut kami renungkan sebelum sesi dimulai:

1. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya?

2. Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?

3. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?

4. Bagaimana gambaran proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?

Jumat, 22 Oktober 2021 “ Ruang Kolaborasi – pengerjaan

Pada sore kami mengadakan vicon di kegiatan 1.1.a.5 Ruang Kolaborasi – Mendesaian Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran KHD. Pada ruang kolaborasi tersebut kami diberikan ruang perjumpaan untuk bekerja dalam mengembangkan sebuah kerangka pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD yang dapat diimplementasikan pada konteks lokal (budaya) daerah asal.desain kerangka pembelajaran yang kontekstual menjadi langkah awal perubahan dan transformasi diri untuk membuat perubahan yang konkret di kelas dan sekolah kami. Pada kegiatan ini kami di bagi dua kelompok ada kelompok A sebanyak 4 orang dan kami sendiri Kelompok B sebanyak 5 orang. Kami di tugaskan setiap kelompok untuk bisa mendesaian kerangka pembelajaran yang sesuai dengan KHD,  dengan kerangka Filosofis “Merdeka Belajar” yang mengacu pada 7 Profil Pelajar Pancasila, dari hasil diskusi bersama kelompok kami sepakati memilih Gotong Royong sebagai pilihan kami untuk persentasikan di kegiatan ruang kolaborasi sesuai yang telah ada.

 

  Ahmad

#PendidikanGuruPenggerak

#CalonGuruPenggerak


LOKAKARYA 4

























Kamis, 28 April 2022

MODUL CGP


Download 1.1.A. Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara


MODUL CGP

   Modul 1.3. Visi Guru Penggerak

Download 1.3 Visi Guru Penggerak

MODUL CGP


Download 1.2.A. Nilai dan Peran Guru Penggerak



MODUL CGP


Download 1.4.A Budaya Positif

Senin, 25 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Mingguan Ke – 17 – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada jurnal refleksi minggu ke 17 saya menggunakan model 9 atau Gaya Round Robin, sebagai salah satu cara merefleksikan hasil pembelajaran pada modul ini. Berikut panduan pertanyaan untuk membuat refleksi model ini:

1)      Apa hal yang paling Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Mengapa Anda merasa hal tersebut bisa membuat Anda sangat menguasainya?

2)      Apa hal yang belum Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

3)      Apa hal yang masih membingungkan Anda dari pembelajaran hari ini? Ceritakan hal-hal apa saja yang membuat hal tersebut membingungkan

Minggu ke -17 saya mempelajari pada modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, dengan mempelajari berbagai aktivitas pembelajaran pada modul, yaitu:

a.     3.1.a.6. Refleksi Terbimbing

b.     3.1.a.7. Demontrsi Kontekstual, dan

c.      3.1.a.8. Elaborasi Pemahaman (vicom bersama Instruktur)

 

1) Apa hal yang paling Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Mengapa Anda merasa hal tersebut bisa membuat Anda sangat menguasainya?

Saya dapat perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. Saya dapat mengetahui 3 Prinsip Pengambilan Keputusan :

a.   Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b.  Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan

c.   Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Saya dapat mengetahui 4 Paradigma Pengambilan Keputusan:

a.   Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b.   Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c.    Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan

d.   Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Selanjutnya saya mengetahui 9 langkah Pengujian dan Pengambilan Keputusan:

a. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.

b. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

c. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

d.Pengujian benar atau salah (Uji Legal, Uji  Regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Publikasi, dan Uji Panutan/Idola)

e. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

f. Melakukan Prinsip Resolusi.

g. Investigasi Opsi Trilema.

h. Buat Keputusan, dan

i. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.

Saya merasa kuasai dan memahami menerapkan 3 Prinsip Penyelesaian dilema, 4 Paradigma Pengambilan Keputusan, dan 9 langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan diatas setelah belajar menganalisis beberapa kasus yang di sajikan dalam LMS dan mendapat tanggapan dari sesama CGP, fasilitaor maupun pada penjelasan dari Instruktuk pada kegiatan vicom pada minggu ini.

 2)      Apa hal yang belum Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Hal yang belum saya kuasai setelah pembelajaran ini adalah bagaimana cara melakukan pengambilan keputusan yang bijaksana, sehingga tidak merugikan salah satu pihak dan tidak resiko yang timbulkan. Meskipun kita telah melakukan sesuai dengan 3 Prinsip Penyelesaian dilema, 4 Paradigma Pengambilan Keputusan, dan 9 langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan, namun belum tentu hasil akhir dari keputusan yang kita buat benar-benar sudah sesuai dengan harapan.

Yang akan saya lalukan untuk mengatasi adalah dalam mengambil keputusan yang kita ambil harus benar-benar teliti, cermat dan hati-hati, pikiran fokus tidak mengambil keputusan secara terburu-buru bahkan dibuat keputusan pun harus tetap merefleksi kembali apakah keputusan yang kita buat sedah benar-benar mewakili aspirasi seluruh pihak yang terlibat atau tidak.

3)      Apa hal yang masih membingungkan Anda dari pembelajaran hari ini? Ceritakan hal-hal apa saja yang membuat hal tersebut membingungkan

Saya masih membingunkan saya dari pembelajaran ini adalah cara menganalisis 3 Prinsip Penyelesaian dilema, 4 Paradigma Pengambilan Keputusan, dan 9 langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan sesuai dengan teori tang saya dapat materi pada modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Jika salah menganalisis maka konsep yang telah pilih juga  tidak akan tepat dalam mengambil keputusan yang kita buat justru akan menimbulkan masalah atau dilema baru.

 

Ahmad

#PendidikanGuruPenggera

#CGPAngkatan4

Sabtu, 23 April 2022

MODUL 3

 3.1.a.9. Koneksi Antarmateri – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Koneksi Antarmateri

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa

yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)

Bob Talbert


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Berdasarkan pandangan Ki Hadjar Dewantara  dengan Filosofi Pratap Triloka yang dikenal dengan semboyannya Ing ngarso sung tuladha yang diartikan  sebagai seorang pemimpin dalam hal ini guru hendaknya mampu memberikan contoh/tauladan yang baik kepada muridnya, Ing madya mangun karsa yang diartikan bahwa seorang pemimpin mampu membangun karsa/kemauan atau pemberi semangat/motivasi,  dan Tut Wuri Handayani yang artinya seorang pemimpin mampu memberikan dukungan, arahan, dan semangat kepada muridnya. Dari filosofi Pratap Triloko Ki Hadjar Dewantara diatas bahwa seorang guru memiliki pengaruh dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menerapkan 4 Paradigma Pengambilan Keputusan, 3 Prinsip Penyelesaian dilema, dan 9 langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pengambilan sebuah keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita tentunya akan dipengaruhi kepada prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang paling kita hargai dalam hidup dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan membimbing dalam kita mengambil sebuah keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai-nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan pada murid kita di sekolah. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Seorang guru harus mampu mengetahui dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional, serta mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh muridnya maupun diri kita. Seorang guru penting menerapkan pendekatan coaching dalam pembelajaran merupakan keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu permasalahan yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang oleh murid kita. Pada konteks pembelajaran yang berpihak pada murid, coaching menjadi salah satu proses 'menuntun' kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dengan resiko yang paling kecil. Guru sebagai pendidik dan pemimimpin pembelajaran sudah sepatutnya meluangkan waktunya untuk menjalankan proses coaching demi terciptanya iklim pendidikan yang berpihak pada murid.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Dalam melaksanakan proses Pendidikan di sekolah, seorang guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar murid serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial dan emosional seperti kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan ketrampilan berhubungan sosial. Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara Kesadaran penuh (mindfulness), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan memanilisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan keputusan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada murid.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika seorang guru dihadapkan pada sebuah kasus yang berkaitan antara dilema etika dengan bujukan moral maka yang diperlukan disini adalah keterampilan sosial untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Dalam kasus ini saya di perhadapkan dalam kasus dilema etika, maka saya akan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang sebagai berikut :

1. 3 Prinsip Pengambilan Keputusan :

a. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan

c. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

2. 4 Paradigma Pengambilan Keputusan: 

a. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan

d. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

3. 9 langkah Pengujian dan Pengambilan Keputusan:

a. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.

b. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

c. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

d. Pengujian benar atau salah (Uji Legal, Uji Regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Publikasi,          dan Uji Panutan/Idola)

e. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

f. Melakukan Prinsip Resolusi.

g. Investigasi Opsi Trilema.

h. Buat Keputusan, dan

i. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. 

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman yang berpihak pada murid. Maka untuk melakukan perubahan diperlukan pendekatan yang sistimatis yaitu dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Sebagai seorang guru tentunya mengalami kesulitan dan tantangan dalam menghadapi berbagai kasus dilema etika yang dialami oleh murid di sekolah karena adanya masalah perubahan paradigma dan budaya atau kebiasaan sekolah yang dilakukan sejak lama, sehingga seorang guru kadang melakukan keputusan yang salah yang tidak berpihak pada murid, masih ada sebagian guru yang kurang berkomitmen dalam menjalankan keputusan yang diambil dan kadang secara sepihak dalam mengambil keputusan tidak melibatkan guru sehingga muncul kendala-kendala dalam proses pengambilan keputusan. 

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Menurut saya pengaruh pengambilan keputusan yang berpihak pada murid adalah salah satu cara dalam memerdekaan murid dalam belajar yang berarti bebas untuk mencapai kodratnya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun, sehingga murid dapat merasakan kebahagian dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Bahwa ketika seorang guru sebagai pemimpin pembelajar dalam melakukan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka murid tersebut akan menjadi orang-orang yang kreatif, inovatif  dalam mengambil keputusan yang menentukan kehidupannya sendiri dimasa depan sehingga bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang matang baik secara fisik dan spikis. 

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan saya dari pembelajaran pada modul ini jika saya mengutip kata-kata Bob Talbert yang menyatakan bahwa Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best), menurut pendapat saya bahwa tugas seorang guru bukan hanya mengajarkan  tentang ilmu itu masuk ke syaraf-syaraf otak melainkan sesuatu yang masuk kedalam kalbu. Sehingga ilmu berdampak pada perilaku, karena orang yang berdap lebih baik dari orang yang berilmu. Jadi seorang guru yang baik, harus mampu menjadi teladan yang baik bagi muridnya. Seorang yang perilakunya bisa dicontoh dan perkataannya bisa dijadikan pegangan. Menjadi seorang guru artinya kita siap untuk menjadi teladan bagi murid maupun warga sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal. 


Ahmad

#CGPAngkatan 4

#Programgurupenggerak

#Tergerak,Bergerak, Menggerakkan

Rabu, 20 April 2022

MODUL 3

 

3.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran



1. Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

a. Saya akan melakukan sosialisasi dan aksi nyata kepala guru atau teman sejawat dan murid di sekolah.

b. Berbagi pengetahun melalui media sosial baik melalui chanel youTube, Facebook, Instagram, telegram, WhatsApp dan blogger.

c. Melakukan kolaborasi  antar guru baik wali kelas, bidang studi maupun rekan guru BK dalam meningkatkan peningkatan layanan Bimbingandan Konseling di sekolah.

2. Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Langkah-langkah yang saya sebagai pemimpin pembelajar dalam   mengambil keputusan sebagai berikut:

a. Menganalisis situasi  yang dihadapi apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral.

b. Menerapkan konsep 4 Paradigma dilema etika, prinsip  dilema etika dan 9 langkah pengambil keputusan dalam mengambil keputusan pada saat berada pada situasi dilema etika dalam diri saya.

a. Meminta bantuan rekan sejawat sebagai teman diskusi untuk menentukan apakah langkah-langkah yang diambil telah tepat dan efektif.

c. Ambil pelajaran dari kasus-kasus yang telah terjadi sebagai acuan dalam mengambil tindakan selanjutnya.

3. Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa?

    Saya akan memulai menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan setiap saat dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling baik kepada teman sejawat maupun kepada murid pada saat berapa pada situasi dilema etika secara terencana, sehingga langkah tersebut di tidak terlupaka.

4. Siapakah yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

     Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.





Senin, 18 April 2022

MODUL 3

 3.1.a.6. Refleksi Terbimbing – Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tefleksi Terbimbing-Pengambilan Keputusan
sebagai Pemimpin Pembelajaran


Minggu, 17 April 2022

MODUL 2

 Kesepakatan Kelas 

Murid SMK Negeri 1 Polewali 



Apakah tujuan kesepakatan kelas yaitu :

1.    Untuk memunculkan motivasi intrinsik dari dalam diri murid sehingga tercipta disiplin positif murid.

2.    Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan melalu pembuatan kesepakatan kelas sehingga murid merasa berarti dan didengarkan aspirasinya.

Kesepakatan kelas harus dilakukan oleh siapa saja?

Dalam pelaksanaanya, kesepakatan kelas ini harus melibatkan peserta didik. Penerapan kesepakatan kelas sebenarnya bukanlah hal yang baru. Membuat kesepakatan kelas selalu dilakukan pada awal semester di kelas perwalian. Namun, selama ini dalam penerapannya memang tidak melibatkan peserta didik secara awal.

Langkah membuat kesepakatan kelas dapat dilakukan dengan langkah-langkah:

  1. Guru mengajak murid memikirkan dengan hati-hati tentang keinginannya tentang kelas impian
  2. Guru meminta murid menuliskan apa yang mereka pikirkan dan inginkan tentang kelasnya dalam belajar. 
  3. Murid menuliskan tentang kelas impian mereka.

Apa itu membangun kesepakatan bersama?

Membangun Kesepakatan Bersama adalah membuat sebuah kesepakatan kata atau permufakatan bersama dalam sebuah proses negosiasi termasuk dalam negosiasi untuk terciptanya integrasi sosial.