This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 30 Mei 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 22 -  Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Pada Jurnal Refleksi Minggu ke – 22, saya menggunakan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Model 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Model refleksi 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P dengan pernyataan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal)

Facts (Peristiwa)

Pada minggu ini saya mengerjakan Modul 3.2.a.8.1 Elaborasi Pemahaman Peminpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, 3.2.a.9. Koneksi Antar Materi Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, dan 3.2.a.10. Aksi Nyata Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Pada modul 3.2 memberikan pembelajaran yang sangat bermanfaat buat saya, dan merupakan hal baru bagi saya. Pada prosesnya pembelajaran ini tidak ada hambatan yang berarti selama proses pembelajaran ini. Karena Saya selalu mendapatkan pembelajaran yang sangat berarti dari Fasilitator, pengajar praktik dan selalu berdiskusi dengan rekan-rekan CGP sehingga hal tersebut sangat membantu.


Feelings (Perasaan)

Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa tertantang dan termotivasi untuk menerapkannya pada koneksi antar materi dan aksi nyata di sekolah, karena menurut saya apa yang saya pelajari pada modul 3.2  ini sangat relevan dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah saya, sehingga dengan mempelajari materi ini semoga menjadi alternatif solusi untuk meningkatkan kualitas belajar dalam layanan Bingan dan Konseling yang berpihak pada murid.


Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari proses ini bahwa dalam pengeloalaan sumber daya sebelum ini saya lebih banyak menggunakan Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pada materi ini saya diperkenalkan kepada Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Future (Penerapan)

Setelah mendapatkan materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, maka dalam pengelolaan sumber daya saya akan lebih memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan/aset serta fokus pada potensi yang positif. Saya akan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah, mengelola sumber daya yang ada di sekolah dengan menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset Based Community Development/ABCD) untuk berusaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam bidang layanan Bimbingan dan Konseling pada murid.

 


Minggu, 29 Mei 2022

MODUL 3

 Modul 3.3.a.2. Pendahuluan Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Penggelolaan Progrma Berdampak pada Murid

Surat dari instruktur

Selamat datang Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak (CGP) di paket modul 3, subbagian 3.3.  Modul ini membahas tentang program/kegiatan sekolah yang berorientasi dan berpihak pada murid sehingga dapat memberikan makna sebagai bentuk dampak yang dirasakan oleh murid  nanti. 

Untuk dapat mengeksplorasi program/kegiatan sekolah yang berpihak pada murid, modul ini mengajak Bapak dan Ibu untuk dapat mengidentifikasikan  suara, pilihan, dan kepemilikan murid dalam program/kegiatan sekolah. Suara, pilihan, dan kepemilikan murid perlu diupayakan oleh sekolah sebagai sebuah komunitas. Apa yang harus disiapkan oleh sekolah untuk menciptakan suara, pilihan, dan rasa kepemilikan murid? Bagaimana kita dapat menciptakan sekolah sebagai lingkungan belajar yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada murid untuk dapat menciptakan suara, pilihan, dan kepemilikan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, modul ini juga memberikan penjelasan bagaimana peran komunitas menyiapkan lingkungan yang dapat mendukung terciptanya suara, pilihan, dan kepemilikan murid. 

Semoga proses pembelajaran ini dapat memberikan pengalaman baru dan membuka cakrawala berpikir yang lebih luas lagi, dan lebih mengedepankan perencanaan kegiatan pembelajaran yang berpihak pada  murid.

Tetap Semangat dalam berkreasi dan berinovasi merancang kegiatan yang berpihak pada murid!

Salam,

Instruktur  Modul 3.3 

Senin, Tanggal 29 Mei 2022


Capaian Pembelajaran Umum

Capaian Umum Modul 3.3

Profil kompetensi Guru Penggerak yang ingin dicapai dari modul ini adalah:

• menyadari murid sebagai mitra bagi guru dalam pembelajaran.

• mengupayakan terwujudnya lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya murid-murid yang mampu menjadi pemimpin dalam proses pembelajarannya sendiri.

• menerapkan konsep kepemimpinan murid pada program atau kegiatan sekolah.

Capaian Pembelajaran Khusus

Capaian Khusus Modul 3.3:

Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak  untuk mampu:

1. menunjukkan pemahaman tentang konsep kepemimpinan murid dan kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila. 

2. menunjukkan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid.

3. menganalisis sejauh mana suara, pilihan dan kepemilikan murid dipertimbangkan dalam program intrakurikuler/kokurikuler/ekstrakurikuler sekolah untuk mewujudkan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

4. mengidentifikasi strategi pelibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. 

5. menerapkan satu program/kegiatan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid dan mempertimbangkan keterkaitannya dengan apa yang telah dipelajari dari modul-modul sebelumnya.

Isi Materi Modul

Isi Materi Modul:

1. Kepemimpinan murid:

a. Suara murid

b. Pilihan murid

c. Kepemilikan murid

2. Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

3. Pelibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid.

4. Program atau kegiatan yang berdampak pada murid dan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid.

Alur Belajar - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

a. Mulai dari diri

o CGP dapat melakukan refleksi sejauh mana keterlibatan dirinya saat mengikuti program/kegiatan sekolah saat bersekolah dahulu.  

o CGP mengungkapkan harapannya dari modul ini

b. Eksplorasi konsep

Eksplorasi Konsep1:

o CGP mengeksplorasi materi untuk membangun pemahaman tentang 

o Konsep kepemimpinan murid (students agency). 

o Apa yang dimaksud dengan suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam konsep kepemimpinan murid.

o Lingkungan yang mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid 

o Peran keterlibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid.

Eksplorasi Konsep 2:

o CGP akan melakukan diskusi asinkron untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang   aspek suara, pilihan dan kepemilikan murid.

o CGP akan menemukenali aspek suara, pilihan dan kepemilikan murid dalam sebuah contoh program atau kegiatan yang menjadi fokus diskusi.

c. Ruang kolaborasi

o CGP bekerja dalam kelompok untuk membuat gambaran singkat (dalam bentuk narasi/paragraf) tentang sebuah program/kegiatan sekolah yang mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan murid.

o CGP mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok lain dan saling memberikan umpan balik.

d. Refleksi Terbimbing

• CGP melakukan refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah mereka lewati untuk mengidentifikasi apa saja yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kegiatan atau program yang menumbuhkan kepemimpinan murid.

e. Demonstrasi kontekstual

CGP menggunakan kerangka BAGJA untuk mengembangkan lebih jauh ide program/kegiatan dari ruang kolaborasi, untuk didiskusikan bersama guru lain di sekolahnya, dengan mempertimbangkan: visi mereka terhadap anak dan kekuatan-aset-potensi-sumber daya yang dimiliki sekolah.

f. Elaborasi pemahaman

CGP mengkonfirmasi pertanyaan yang masih dimiliki yang terkait dengan program/kegiatan sekolah yang menumbuhkan kepemimpinan murid lewat proses tanya jawab dan diskusi dengan instruktur.

g. Koneksi antar materi

• CGP mengaitkan prakarsa perubahan dengan pemahaman mereka atas modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya untuk menguatkan desain dan kerangka/dasar teori program/kegiatan yang berdampak pada murid.

• CGP menyajikan sebuah presentasi PPT untuk menjelaskan rancangan program/kegiatan yang telah dibuat pada tahap demonstrasi kontekstual (BAGJA) menjadi rencana program intrakurikuler, atau ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler.

h. Aksi nyata

• CGP menjalankan rancangan program/kegiatan yang telah dibuat pada tahapan sebelumnya

• CGP mendokumentasikan proses eksekusi program/kegiatan mereka dalam bentuk e-portfolio







MODUL 2

 2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep – Coaching


Jumat, 27 Mei 2022

MODUL 2

 2.2.a.9. Koneksi Antar Materi – Pembelajaran Sosial dan Emosional


Jumat, 20 Mei 2022

MODUL 3

 3.2.a.7. Demonstrasi Kontekstual – Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemetaan 7 Aset yang Dimiliki Sekolah

Salam Guru Penggerak

Pada kesempatan ini saya akan berbagi terkait tugas saya pada Pendidikan Guru Penggerak pada Angkatan 4 kabupaten Polewali Mandar. Adapun tugas yang dapat saya bagikan pada tugas modul 3.2.a.7 Demonstrasi Kontekstual - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Sebagai seorang pemimpin kita harus mampu memetakan segala aset yang dimiliki oleh sekolah. Pemetaan aset ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh sekolah yang nantinya akan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan juga melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid. 

1. Apa yang kami kuasai

yang dapat kami kuasa yaitu mampu beradaptasi dengan lingkungan Sesuai dengan perkembangan zaman. Mampu bersaing di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bidang kesenian dan olahraga. Hal ini sejalan dengan visi misi sekolah kami yaitu menjadi lembaga pendidkan dan pelatih kejuruan yang mampu   menyediakan tenaga kerja professional tingkat menengah yang unggul bersaing di era globalisasi berdasarkan nilai agama dan budaya yang berkarakter.

2. Apa yang paling kami banggakan dari SMK 1 Polewali? Dari Murid-murid SMK Negeri 1 Polewali.

Yang paling kami banggakan dari sekolah adalah sekolah kami masuk program pemerintah sebagai Sekolah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK PK) prioritas Sektor Hospitality pada tahun 2021 pada jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran  dan yang paling kami banggakan dari murid-murid kami adalah memiliki toleransi yang tinggi terhadap budaya dan agama kepercayaan yang dimiliki oleh murid-murid, dan tetap melihat nilai-nilai budaya yang ada provinsi sulawesi barat khususnya budaya mandar yaitu budaya Malaqby. Murid -  murid di SMK Negeri 1 Polewali memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan sekolah, fasilitas sekolah serta memiliki prestasi yang membagagan dalam bidan akademik maupun non akademin (seni dan olahraga).

3. Apa yang membuat sekolah Negeri 1 Polewali unik?

Yang membuat SMK Negeri 1 Polewali unik adalah dengan memiliki 6 jurusan yaitu Jurusan Akuntasi, Administrasi Perkantoran, Multimedia, BDP, Farmasi dan DPIB, dari bebera jurusan tersebut memiliki murid yang beragam suku (mandar, bugis, pattae, pantinjo dan bahasa mamasa) dan agama (Islam, Kristen dan Hindu) serta latar belakang ekonomi yang berbeda namun murid-murid kami memiliki toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan yang dimiliki oleh murid-murid, dan tetap melihat nilai-nilai budaya yang ada provinsi sulawesi barat khususnya budaya mandar yaitu budaya Malaqby.

4. Kekuatan SMK Negeri 1 Polewali yang  yang dimiliki dan berharga untuk masyarakat/komunitas sekitas?

Modal Manusia, modal Sosial, modal Fisik, modal Lingkungan/alam, modal Finansial, modal Politik, serta modal Agama dan budaya.

5. Apa yang telah SMK Negeri 1 Polewali lakukan dan miliki yang lebih baik dari orang tua?

Yang telah SMK Negeri 1 Polewali lakukan yang terbaik bagi orang tua maupun murid adalah dengan dengan mewujudkan 7 aset/modal yang miliki oleh sekolah mulai dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya.

Berikut pemetaan 7 aset/modal atau sumber daya yang dimiliki oleh SMK Negeri 1 Polewali

1. Modal Manusia

SMK Negeri 1 Polewali memiliki 1 orang kepala sekolah, 85 orang guru PNS, 9 orang guru kontrak, 1 orang tenaga TU kontrak, 1 orang tenaga kebersihan (CS), dan 1 orang tenaga keamanan (satpam). Hampir sebagian besar guru-guru dan sataf pendidikan di sekolah saya menguasai IT. Pengawas satuan pendidikan yang berpengalaman dengan jenjang pendidikan S2, Ketua komite sekolah latar pendidkan S3/ mantan Rektor salah satu penguruan tinggi swasta di kabupaten polewali mandar tepatnya di kecamatan polewali. Orang tua murid yang heterogen. SMK Negeri 1 Polewalipada tahun ini memiliki siswa sebanyak 1215 orang murid baik murid perempuan maupun laki-laki. Siswa-siswa SMK Negeri 1 Polewali sarat akan prestasi baik prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik (Olahraga dan Seni).

2. Modal Sosial

a. Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK Negeri 1 Polewali menjaling kerjasama dengan Dinas tenaga kerja.

b. KORPS untuk guru dan pegawai

c. PGRI, IGI

d. Mengoptimalkan kegiatan MGBK dan MGMP

e. Komunitas Praktisi

f. Kominte sekolah

g. Ikatan alumni SMK Negeri 1 Polewali

h. Kerja sama beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta,

3. Modal Fisik

SMK Negeri 1 Polewali memiliki bangunan fisik diantaranya, 33 ruang kelas untuk kegiatan pembelajaran, 1 ruang kepala sekolah, 1 Ruang guru, 1 Ruang BK, 1 ruang TU, 1 ruang perpustakaan, 1 lab. Jurusan Akutasinsi, 1 Ruang Teaching Factory Jurusan Akuntansi, 1 lab. Jurusan  Adminintasi Perkantoran, 2 lab. Jurusan Multimidia, 1 Ruang Teaching Factory Jurusan Multimedia, 3 lab. Jurusan BDP/Pemasaran, 1 Bisnis Center/Alfamart Jurusan BDP/Pemasaran, 1 lab. Jurusan Farmasi, 1   lab. Jurusan DPIB,1, ruang Dapodik,  1 gedung AULA, 1 ruang BKK, 1 Ruang ketua Jurusan, 1 Ruang Wakasek, 1 ruang lab. Bahasa 1 ruang lab. agama, 1 ruangan sebagai gudang, 1 ruang peralatan olahraga, 1 ruang UKS, 1 ruang PMR, 1 ruang OSIS, 2 runag Pramuka putra dan putri, 1 ruang ROHIS, 1 ruang PKS, 1 POS Satpam, 19 ruang kamar mandi, 1 gedung kantin, 1 mulollah, tempat parkir motor guru, staf dan murid, 1 tempat parkir mobil guru, taman baca, lapangan upacara, lapangan Basket, lapangan Volly, Takrow, tempat Lompat jauh, media pembelajar, jaringan internet, wastafel, saluran pembuangan air, rambu covid 19, bank sampah, gerobak, green house, jaringan listrik, kolam ikan.

4. Modal Lingkungan/Alam

Modal lingkungan/alam yang dimiliki oleh SMK Negeri 1 Polewali memiliki sirkulasi udara yang bersih dan bagus karena sekolah memiliki pohon-pohon yang rindang. Memiliki taman sekolah yang luas dan asri, juga tanaman yang indah, kolam ikan yang di lengkapi air mancur yang sangat bagusserta memili green house. Sekolah ini juga memiliki ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan untuk area bermain bagi murid-murid.

5. Modal Finansial

Untuk modal finasial SMK Negeri 1 Polewali mengandalkan dari dana BOS yang diberikan oleh pemerintah pusat dan kadang kala juga ada bantuan BOMDA yang diberikan oleh pemerintah provinsi Sulawesi barat, iuran kantin, Pendapatan dari Toko Bisnis Center/Teaching Factory BDP/Pemasaran untuk membantu kegiatan sekolah, kesejahteraan sekolah serta Koperasi sekolah.

6. Modal Politik

Untuk modal politik yang dimiliki sekolah yaitu:

a. Sekolah bersinergi dengan pemerintah Provinsi Sulawesi barat, maupun Pemerintah Kabupaten Polewali maupun dinas lain yang mendukung kegiatan sekolah khususnya Dinas Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat. 

b. Menjalin kerja sama dalam kegiatan Prakerin atau DUDIKA sekolah setiap jurusan.

c. Melakukan MoU dengan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, dalam peningkatan jurusan BDP/Pemarasan

d. Melakukan MoU dengan lembaga lain dalam penyaluran murid prakerin (Bank, Penguruan Tinggi, dinas pemerintah, perusahaan).

7. Modal Agama dan Budaya

Untuk modal agama dan budaya yang dimiliki oleh SMK Negeri 1 Polewali yaitu murid yang beragam agama dan budaya, sekolah memberikan kebebasan dalam kegiatan keagamaan misalnya untuk murid yang beragama Islam dalam Organisasi  Rohani Islami (ROHIS) dan untuk beragama Kristen dalam organisasi Persatuan Umat Nasrani (PUN), dari kedua organisasi keagaman yang ada di sekolah mereka saling mendukung saat ada kegiatan yang dilakukan masing-masing. Sekolah juga memiliki kegiatan ekstrakulikuler di bidang seni dan budaya untuk pelestarian seni dan budaya yang ada di kabupaten Polewali Mandar. Adapun ekstrakurikuler yang dimiliki dalam bidang seni dan budaya yaitu tari daerah, rebana, kacaping, sayang-sayang, ma’calong dari batok kelapa.


Download :  3.2.a.7. Demonstrasi Kontekstual



Rabu, 18 Mei 2022

MODUL 3

 3.2.a.6. Refleksi Terbimbing - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


1. Apa yang menarik dari proses dan hasil pemetaan tentang sumber daya di daerah untuk sekolah Anda?

Hal yang menarik adalah dapat mengetahui sumber daya yang ada di daerah adalah dapat mengetahui potensi yang dimiliki daerah terkait dengan 7 aset/modal yang dimiliki oleh daerah untuk sekolah antara lain modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal Lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya semua modal ini akan sangat bersinergi bagi sekolah dan mengelola sumber daya yang dimiliki, dari proses pemetaan tentang sumber daya tersebut bisa dijadikan sebagai landasan jika sekolah mengalami masalah dalam pemanfatan potensi yang dimiliki oleh sekolah.

2. Apakah pola pikir yang Anda pikirkan sebelum mempelajari modul ini? Apakah menggunakan pendekatan aset atau masalah?

Sebelum mempelajari modul ini pola pikir saya sebagian besar adalah melihat dari pendekatan masalah. meskipun sekolah saya oleh di katankan memiliki potensi yang terkait pendekatan berbasis aset yang sangat memadai, namun saya kadang ragu dalam mengelola aset yang dimiliki oleh sekolah. Setelah saya mempelajari pada modul saya lebih memahami tentang pengelolaan aset karena pada eksplorasi konsep dan ruang kolaborasi banyak membahas konsep dan praktik mengenai pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah dengan menggunakan pendekatan aset atau masalah.

3. Jika ada perubahan? Sebutkan apa perbedaannya dan mengapa itu berubah?

Banyak perubahan pada diri saya Setelah mempelajari pada modul 3.2 pemimpin dalam  pengelolaan sumber daya dengan berbasis aset. Saya menjadi paham dan akan selalu mencoba melakukan dan menerapkan pendekatan berbasis aset, saya sangat bangga mendapatkan hal-hal positif tidak hanya untuk sekolah namun juga saya akan menerapkan dalam kehidupan saya sehari-hari. pertama dari pola pikir, mulai mengubah paradigma cara memandang segala sesuatu tidak lagi dari kekurangan atau kelebihan dan senatiasa akan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah melalui kolaborasi yang baik dengan anggota komunitas atau seluruh warga sekolah.

4. Apa yang perlu Anda lakukan jika Anda dapat terus berpikir dengan pendekatan berbasis aset?

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan dalam membangun sekolah. Secara terus menerus melakukan pembaharuan dan pengembangan kepemimpinan untuk melakukan perubahan yang kontinu sehingg kekuatan-kekuatan positif kita dapat lakukan secara maksimal.

5. Buatlah satu gambar/simbol/kata yang bisa menggambarkan apa yang Anda rasakan saat ini terkait pembelajaran lalu diunggah ke dalam platform ini. (insert picture atau tautan)

Saya beryukur dapat  memahami tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan baik dan saya akan selalu berpikir positif dan memandang segala sesuatu dari segi kekuatan serta memaksimalkan aset/ kekuatan/ potensi yang ada di lingkungan sekolah ataupun daerah.



By Ahmad


Selasa, 17 Mei 2022

MODUL 3

 3.2.a.5.2 Ruang Kolaborasi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Senin, 16 Mei 2022

MODUL 3

 3.2.a.5. Ruang Kolaborasi - Forum Kelompok

Identifikasi Aset – Sekolah Menengah di Kecamatan Polewali –Kelompok 1

1. Aset manusia:

a. Kepala Sekolah: Pendidikan S.2

b. Guru: Pendidikan S1 dan S2

c. Murid: Jumlah murid (L dan P), latar belakang ekonomi 

d. Staf/Tenaga Kependidikan: Latar Pendidikan

e. Pengawas Satuan Pendidikan: Latar Pendidikan

f. Komite Sekolah: Latar Pendidikan, dan profesi, 

g. Orang tua siswa

h. Alumni: Profesi/karir


2. Aset sosial:

a. Kepercayaan masyarakat 

b. Dukungan pemerintah setempat

c. Kerja sama beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta,

d. Kerja sama dengan DUDIKA (Industri, Usaha dan Kantor) tempat prakerin


3. Aset fisik :

a. Ruang Kepala Sekolah, Ruang guru, Ruang BK, Ruang TU, Ruang Perpustakaan, Bisnis Center/alfamart SMK, Laboratorium , Ruang Belajar/Praktik, Kantin, Musallah, Ruang Organisasi, WC/Sarana air bersih, POS Satpam, Sarana Olahraga, Area parker, Aula, Teaching Factory/ Ruang Produksi Jurusan, Bank Sampah, Green Hous, Akses transportasi, jaringan Internet, Jaringan Listrik


4. Aset lingkungan:

a. Area Pertanian (Sawah), kebun toga, Taman, kolam ikan, kebun sekolah, taman baca, area sekolah yang luas, area sekolah berada di pusat perkotaan


5. Aset finasial: 

a. Dana BOS, BOMDA, Iuran Komite, Iuran kantin, Pupuk Komposter Cair, Hasil Kewirausahaan, Koperasi Sekolah, Bank Sampah.


6. Aset politik: 

a. Menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha, Industri, dan Kantor (DUDIKA)

b. MoU dengan lembaga lain (Bank, Perguruan Tinggi, dinas pemerintah dan komunitas)


7. Aset agama dan budaya:

a. Toleransi antar agama, dan budaya

b. Memiliki lingkungan yang relijius

c. Memiliki komunitas dan tokoh-tokoh budaya

d. Memiliki komunitas kesenian

e. Memiliki objek-objek budaya dan agama


Minggu, 15 Mei 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi – Minggu 20

Pada Jurnal refleksi minggu ke 20 ini saya menggunakan model 4C (Connection, challenge, concept, change), yang dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran pada modul 3.2 :

a. Senin, tanggal 9 Mei 2022 adalah 3.2.a.3. Mulai dari Diri - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

b  Selasa, 10 Mei 2022 adalah 3.2.a.4. Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

c. Rabu, 11 Mei 2022 adalah 3.2.a.4.1. Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

d. Jumat, 13 Mei 2022 adalah 3.2.a.5.a Ruang Kolaborasi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


MODEL 4 C : (CONNECTION, CHALLENGE, CONCEPT, CHANGE)


1. CONNECTION

Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?

Materi pada minggu ini adalah tentang identifikasi aset atau modal yang dimiliki oleh sekolah dan masing-masing Calon Guru Penggerak untuk melaksanakan perannya sebagai pemimpin dalam pengelola sumber daya yang dimiliki di sekolah. Pendekatan tersebut berfokus pada Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), yaitu pengembangan potensi atau sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. sebagai Calon Guru Penggerak harus bisa memetakan potensi aset yang dimiliki sekolah sehingga mampu mewujudkan visi yang dimiliki oleh sekolah.


2. CHALLENGE

Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?

Sebelum mempelajari modul 3.2, Pemimpin dalam mengelola sumber day, saya sebagai Calon Guru Penggerak saya sering melihat dari segi negatif atau kekurangan yang dimiliki oleh sekolah, karena merupakan hal yang sangat jelas dan dirasakan oleh warga sekolah, namun setelah saya mempelajari pada modul 3.2 dengan berkolaborai bersama dengan Fasilitator, Pengajar Praktik dan rekan CGP lainnya,  saya lebih memahami sedikit demi sedikit tentang pengembangan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah, saya sebagai Calon Guru Penggerak harus mampu untuk mengelola sumber daya yang dimiliki oleh sekolah secara tepat dan berpihak pada murid.


3. CONCEPT

Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

Konsep utama yang penting dan terus dibawa oleh Calon Guru Penggerak:

a. Fokus pada aset yang dimiliki oleh sekolah.

b. Pemetaan sumber daya,7 aset/modul  (Modal manusia, modal sosial, model fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya)


4. CHANGE

Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Perubahan yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.2 tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya saya dapat memahami dan mengelola sumber daya yang dimiliki oelh sekolah secara tepat dan saya juga dapat melakukan secara baik dalam setiap layanan bimbingan dan kenseling yang sesuai dengan keinginan para murid.


Download 3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi – Minggu 20


Ahmad

Kamis, 12 Mei 2022

MODUL 3

 3.2.a.4.2. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pembelajaran

Selain menjawab pertanyaan pada kegiatan sebelumnya, Anda juga diminta untuk mengerjakan studi kasus di bawah ini. Hubungkan dengan materi pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, serta Pengembangan Komunitas Berbasis Aset.

Studi kasus di bawah ini merupakan kejadian yang diambil dari pengalaman guru yang sebenarnya, namun kami mengganti nama guru, sekolah, atau daerah mana kasus ini terjadi.

Studi Kasus 1

Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua.  Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong. 

Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan.  Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen.  Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan.  Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan.  Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp. 

Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK.  Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit. 


Pertanyaan

Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini?

Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.

Jawaban Kasus 1 :

Dengan adanya sekolah favorit dan non favorit menyebabkan guru berada pada zona nyaman, sehingga jika dihadapkan dengan murid di sekolah lain terjadi permasalahan. Seperti kasus Bu Lilin di atas, hal tersebut karena Bu Lilin belum memahami pembelajaran yang disampaikan oleh KHD, yaitu pembelajaran itu menuntun murid sesuai dengan qodratnya masing-masing. Dengan demikian seharusnya seorang guru bisa beradaptasi dengan muridnya, bukan muridnya yang harus adaptasi terhadap gurunya. Disinilah pentingnya seorang guru melayani muridnya yang beragam dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sedangkan Bu Lilin akan memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah karena belum memahami tentang pembelajaran sosial emosional.

Sebaiknya sebagai Kepala Sekolah berusaha untuk mencoba menyelaraskan frekuensi yang dimiliki oleh guru dan murid sehingga pembelajaran berjalan dengan menyenangkan, aman, nyaman dan kondusif.


Studi Kasus 2

Pak Pupur, guru yang dicintai para muridnya. Cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri.  Suatu ketika, Dinas Pendidikan daerah membuka lowongan pengawas sekolah. Kepala Sekolah merekomendasi Pak Pupur untuk mendaftar seleksi calon pengawas sekolah. Kepala sekolah memilih Pak Pupur untuk mengikuti seleksi karena selain berkualitas, dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur  mengikuti seleksi calon pengawas sekolah. 

Secara portofolio, penghargaan kejuaraan perlombaan guru, karya alat peraga berbahan limbah yang Pak Pupur ikuti selalu bisa sampai mendapatkan penghargaan lomba tingkat nasional. Kecerdasannya pun juga luar biasa di mana nilai Uji Kompetensi Gurunya (UKG) bisa mencapai nilai 90, Namun, Pak Pupur justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.


Pertanyaan

Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pupur?

Apabila Anda sebagai Kepala Sekolah, apa yang bisa Anda lakukan?


Jawaban Kasus 2 :

Kalau saya menyayangkan terhadap Pak Pupur mengapa justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah, semestinya bangga karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Selain itu Pak Pupur memang berkualitas dan dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.

Sebagai seorang Kepala Sekolah sebaiknya menanamkan budaya positif, khususnya budaya berbagi di sekolah. Mengapa Pak Pupur bisa menjadi guru yang dicintai para muridnya, cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri ? Tentunya guru yang lain juga ingin mempunyai karakter seperti itu. Disinilah pentingnya kolaborasi antara Pak Pupur dengan teman sejawatnya untuk saling berbagi, sehingga apabila Pak Pupur mengikuti seleksi calon pengawas sekolah, di sekolah itu masih ada Pak Pupur lain yang lebih hebat.


MODUL 3

Rabu, 11 Mei 2022

MODUL 3

3.2.a.3. Mulai dari Diri - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Mulai dari Diri 

1. Ingatlah kembali sosok pemimpin yang pernah Anda tahu selama berprofesi sebagai guru, seperti apakah sosok pemimpin yang Anda ingat itu?Hal apa yang paling Anda ingat dari sosok pemimpin tersebut?
Selama saya menjadi seorang guru kurang lebih 11 tahun, setelah saya bertugas di tempat yang baru yaitu di SMK Negeri 1 Polewali saya kurang lebih 5 tahun baru menemukan memimpin yang visoner dan berwibawa beliau adalah kepala sekolah atau sosok pemimpin yang benar-benar pengayomi guru dan staf selolah. Pemimpin yang sudah memiliki gambaran dan program yang jelas dalam memajukan sekolah yang melibatkan seluruh warga sekolah dalam setiap kegiatan.

2. Setelah mengingat sosok pemimpin yang Anda tahu, menurut Anda pribadi seperti apakah sosok pemimpin yang ideal? Apa saja sebetulnya tugas seorang pemimpin?
Sosok pemimpin yang ideal menurut sata adalah pemimpin yang dapat menggerakkan selurru jiwa raga dalam mewujudkan visi dan misi yang telah di buat bersama. Pemimpin yang selalu mendengarkan setiap aspirasi bawahannya dan memberikan ide kreatif dalam memajukan sekolah, serta memberikan pengaruh positif pada seluruh yang bawahannya dan berkomitmen dari sebuah proses yang akan di lakukan maupun yang telah dilakukan.

3. Masih ingatkah kita apa yang dimaksud dengan ekosistem saat belajar Biologi dulu? Apabila kita menganggap sebuah sekolah adalah sebuah ekosistem, apa sajakah faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah? Tuliskan pada kolom di bawah ini. 
kosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Ekosistem juga bisa di maknai sebagai tatanan kesatuan utuh dan menyeluruh yang terjadi antara unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Jadi jika dihubungankan dengan ekosistem sekolah dengan lingkungan sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, murid, staf, tenaga kebersihan, satpam yang saling memiliki hubungan timbal balik.

4. Apa yang Anda ketahui tentang peran seorang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya di sekolah? Apa saja sumber daya yang dimiliki oleh sekolah?
Peran seorang pemimpin dalam mengelolaan sumber daya sekolah adalah mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki, memetakan potensi yang dimiliki, dan menggunakan kekuatan dan potensi yang dimiliki untuk mengembangkan potensi murid dengan optimal.

5. Bagaimana Anda menggambarkan posisi diri Anda dalam ekosistem sekolah? Berikanlah gambaran diri Anda dengan menyebutkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dalam pengelolaan sumber daya sekolah.
Seorang guru harus memberikan pengaruh dan menggerakkan dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan. Kekuatan yang saya miliki sebagai ketua MGBK SMK Tingkat kabupaten dapat mengorganisir rekan-rekan guru BK ada di sekolah maupun guru BK di luar sekolah dalam memberikan layanan BK dalam bidang layanan pribadi, sosial, belajar dan karir yang inovatif yang berpihak pada murid.

6. Apa saja harapan pada diri Anda sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan pada murid setelah mempelajari modul ini?
Diri sendiri: Dapat menjadi seorang pemimpin yang mampu mengelola sumber daya dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya serta mampu memetakan sumber daya yang ada di sekolah Murid: Menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid Sekolah: Sekolah mampu mengelola sumber daya dan mampu memetakan sumber daya yang ada di sekolah secara efektif.

7. Apa saja kegiatan. Materi, manfaat, yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
Harapan saya dalam mempelajari modul ini agar saya mampu menggali potensi atau kekuatan yang saya miliki sebagai seorang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki sekolah serta dapat meningkatkan kualitas dalam setiap layanan bimbingan dan konseling yang berpihak pada murid.

MODUL 3

 3.2.a.4. Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Pembelajaran 2.1

Tujuan Pembelajaran Khusus:

• CGP dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah.

• CGP dapat mengidentifikasi peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.

 CGP memahami pengelolaan sumber daya yang ada di sekolahnya dengan menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset-Based Community Development/ABCD) 

• CGP dapat memahami potensi sumber daya yang dimiliki lingkungan sekolahnya.

• CGP dapat mengevaluasi hasil pemetaan potensi sumber daya sekolahnya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran murid.

1. Pengantar

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, kali ini kita masuk pada sesi pembelajaran 2, yaitu Eksplorasi Konsep Mandiri. Pada sesi pembelajaran kali ini, Anda akan banyak melakukan eksplorasi mandiri dengan menelaah konsep dasar tentang pengelolaan sumber daya dan kemudian mendiskusikannya bersama dengan CGP lainnya pada Forum Diskusi. 

2. Pertanyaan Pemantik

Sebelum melakukan telaah materi, silakan Anda mempelajari terlebih dahulu pertanyaan pemantik berikut ini :

1. Apabila kita menganggap sebuah sekolah adalah sebuah ekosistem dengan faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya, maka  faktor-faktor apa saja yang termasuk dalam kelompok biotik dan abiotik? Faktor biotik: meliputi murid, guru kepala sekolah, Pengawas sekolah, staf, orang/ wali murid dan komite sekolah, Sedangkan Faktor abiotik: meliputi sarana dan prasarana, dan keuangan

2. Bagaimanakah seharusnya seorang kepala sekolah berperan? Kepala sekolah sebagai manajer yang aktif dan efektif dalam mengelola kelangsungan sekolah.

3. Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah sebagai pemimpin ekosistem sekolah? Kepala sekolah sebagai motivator, mampu memberikan teladan yang baik bagi ekosistem sekolah serta mampu menjadi educator, manajer, supervisor, entrepreneur dan climatemaker.

4. Apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efisien? Kepala sekolah mampu memotivasi mengelola manajer serta memahami karakter Setiap warga sekolah

5. Seberapa besar dampak sumber daya (fasilitas) yang sekolah miliki untuk memfasilitasi proses pembelajaran murid saat ini?. Jelaskan! Dampak sumber daya (fasilitas) yang dimiliki sekolah adalah untuk menunjang program Pusat sumber belajar murid agar kegiatan belajar berjalan efektif dan membuat murid semakin rajin dan tekun sehingga dapat meningkatkan proses pembelajaran yang aman, nyaman bagi murid.

6. Seberapa efektif sumber daya sekolah yang kita miliki dalam mendukung kualitas pembelajaran di sekolah?. Jelaskan! Ketersedian sumber daya sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalang ketercapaian tujuan sekolah. Sumber daya se


kolah yang dimiliki akan mempermudah murid untuk mendapatkan haknya dan murid akan lebih mudah menguasai suatu konsep manfaatkan sumber daya yang lengkap yang dimiliki sekolah

7. Adakah cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan sumber daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran murid? Dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dan komitmen yang tinggi. 

8. Sudahkah sekolah memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar? Bagaimana pemanfaatannya? Bekerjasama dengan masyarakat untuk memberikan keleluasaan murid mendapatkan pengetahuan dan pengalaman

Tidak ada jawaban salah atau benar di sini, tuliskan di catatan kecil Anda sesuai dengan apa yang Anda pikirkan dan temukan saat ini. Kita akan mendiskusikan ulang semua jawaban pada forum diskusi.

3. Sekolah Sebagai Ekosistem

Sebelum  mempelajari tentang sekolah sebagai ekosistem silahkan menyimak tayangan Video Sekolah Sebagai ekosistem berikut. 


Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

• Murid

• Kepala Sekolah

• Guru

• Staf/Tenaga Kependidikan

• Pengawas Sekolah

• Orang Tua

• Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

• Keuangan

• Sarana dan prasarana


Jawaban

Unsur biotik dan abiotik yang saling mempengaruhi dalam ekosistem sekolah, kedua unsur ini saling berinteraksi satu sam lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Jika salah satu unsur tidak ada maka akan terjadi ketidakseimbanan terhadap pengelolaan sumber daya di sekolah.

4. Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking)

Sebelum mempelajari tentang Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking) silahkan menyimak tayangan Video berikut.


Jawaban:

Dalam mengembangkan sekolah dengan melakukan pendekatan berbasis aset bahwa cara yang tepat dengan menggunakan 7 aset dan kekuatan dimiliki sekolah yaitu 1) Modal manusia, 2) Modal Sosial, 3) Modal fisik, 4) Modal lingkungan/alam, 5) Modal finansial, 6) Modal politik, dan 7) Modal agama dan budaya. Dengan mengelola aset yang dimiliki oleh sekolah secara maksimal maka dapat dijadikan acuan untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan yang dimiliki oleh sekolah. Dari pendekatan berbasis aset tersebut sehingga merupakan cara yang praktis dalam menemukan dan mengenali hal-hal positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan berbagai tumpuan berpikir untuk menjadikan potensi yang positif.

5. Sejarah singkat pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development

Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University. ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).  

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. 

Jawaban:

Pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapi dengan bermodalkan kekuatan yang ada di dalam diri mereka sendiri dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

6. PKBA sebagai Pendekatan yang Dibantu oleh Pihak Luar

Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar.  Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.

1. Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

2. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

3. Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

4. Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

5. Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik. 

6. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas. 

7. Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. 

8. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. 

9. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. 

10. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif. 

Jawaban

Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driver Development akan menghasilkan kekuatan besar yang mampu memberikan manfaat besar bagi lingkungan sekolah maupun bagi para alumni yang dihasilkan oleh sekolah tersebut.

7. Aset – aset dalam sebuah komunitas

Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan .

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:

1. Modal Manusia

• Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.

• Pemetaan modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala.

• Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok.  Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi.  Kecakapan yang berhubungan dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain musik.

 2. Modal Sosial

• Norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan ( networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.

• Investasi yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki masa depan yang sama.

• Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas  dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.

3.  odal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

• Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.

• Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.

4. Modal Lingkungan/alam

• Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup.  Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.

• Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya.

5. Modal Finansial

• Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.

• Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.

• Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.

6. Modal Politik

• Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.

• Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

7. Modal Agama dan budaya

• Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.

• Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.

• Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik.  Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.

• Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.

• Sangat penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan perencanaan dan kegiatan bersama.

Jawaban:

Kretzmann dan McKninght menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan. Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset dan kekuatan dimiliki sekolah yaitu 1) Modal manusia, 2) Modal Sosial, 3) Modal fisik, 4) Modal lingkungan/alam, 5) Modal finansial, 6) Modal politik, dan 7) Modal agama dan budaya.

8. Studi Kasus 1

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak silakan menyimak video berikut ini


Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, setelah Anda menonton dan menyimak video yang menunjukkan suasana rapat guru dan kepala sekolah yang berbasis masalah/kekurangan dengan berbasis aset, jawablah pertanyaan berikut.

Jawaban:

Selama kita berada di sekolah, pada saat rapat antar guru atau dengan kepala sekolah, biasanya apa yang dibahas? Apakah membahas apa yang menjadi kekurangan sekolah selama ini? Atau membahas soal kekuatan yang dimiliki oleh sekolah? Biasa pada saat rapat berlangsung yang di munculkan adalah kekurangan sekolah atau kelamahan yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam memimpin sekolah tersebut sehingga melupakan kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, mengatasi kekurangan yang dilakukan dengan musyarawah bersama dalam menemukan solusi atau dalam mencapai mufakat.

9. Studi kasus 2

Simak kembali video berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya


Selama kita berada di sekolah, apabila kita mendiskusikan seorang murid bersama sesama rekan guru lainnya atau Kepala Sekolah, biasanya apakah yang kita bahas? Kekurangan atau kenakalan dari murid kita atau kebaikan atau kekuatan yang dimiliki murid kita? Selama saya berada di sekolah, yang sering didiskusikan bersama rekan guru lainnya atau kepala sekolah adalah kekurangan dan kenakalan murid, selain itu juga kadang kala juga saya bersama guru maupun kepala sekolah juga kadang membahas tentang prestasi murid baik prestasi di bidang akademik maupun prestasi di bidang lain misalnya pada bidang seni, olahraga atau sumber kekuatan yang dimiliki oleh murid sebagai sumber kekuatan sekolah.






Senin, 02 Mei 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 2







Pada pertemuan di Ruang Kolaborasi bersama fasilitator dan CGP kelas B membahas tentang kerangka pembelajaran sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pada saat itu di adakan presentase masing-masing  kelompok dan kelompok lainnya memberikan tanggapan dan pernyataan.

Kegiatan Ruang Kolaborasi:

Saya bersama teman CGP lainnya diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok, pertanyaan dan tanggapan tentang kerangka pembelajaran sesuai pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara yang mengaju pada Profil Pelajar pancasila memiliki kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi yaitu: 1) Beriman, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia . 2) Berkebinekaan global. 3) Bergotong-royong. 4) Mandiri.  5) Bernalar kritis. 6) Kreatif. Dalam ruang kolaborasi tesebut para CGP juga diberikan pemahaman tentang profil pelajar pancasila oleh fasilatator dan kami juga melakukan diskusi tentang apa yang dilakukan dan bagaimana cara mencapai Profil Pelajar Pancasila tersebut.





Pada kegiatan ini CPG diberikan ruang untuk menuangkan pengetahuan dan pengalaman baru mempelajari secara mendalam pemikiran filosofi Ki Hadjar Dewantara.

Kegiatan Refleksi Terbimbing: 

Saya menuangkan pengetahuan dan pengalaman baru saya yang saya dapatkan, menuangkan dan perubahan dalam diri saya dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru ini, serta perubahan konkret yang akan saya lakukan setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara diri ini saya tuangkan dalam sebuah video prentase yang singkat dan penuh makna karena baru pertama kali membuat video sejak baru sebagai CGP harapan saya semoga saya semakin tertantang dalam kegiatan berikutnya.


Kegiatan ini lakukan untuk memberikan kepada CGP dalam menuangkan pemahamannya atas pemikiran KHD dalam konteks perannya sebagai guru dan interaksinya dengan siswa dan warga sekolah dalam sebuah karya teks atau verbal atau visual (video pendek/komik/lagu/puisi/ postek/ infografis).

Kegiatan Demonstarasi Kontekstual:

Saya menuangkan pemahaman atas pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam konteks peran saya sebagai guru dan interaksi saya dengan siswa dan warga sekolah lewat karya visual yaitu Vidio. Di dalam karya ini menceritakan tentang pemikiran Filosofi Ki Hadjar Dewantara, lewat karya yang menarik mereka dapat memahami tentang peran KHD dalam pendidikan. Dalam pembuat karya tersebut saya dan guru di sekolah di tantang untuk berinovasi dalam membuat media pembelajaran yang lebih menarik lagi untuk para siswa.

Elaborasi Pemahaman Kegiatan webinar tentang Elaborasi Pemahaman Konferensi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Oleh Perguruan Taman Siswa dan sekolah lain yang sudah menerapkan Merdeka Belajar.

Kegiatan Webinar:

Dalam kegiatan webinar yang dilakukan hari Jumat tanggal 29 Oktober 2021, jujur saya tidak mengikuti karena hari saya sama kakak kandung saya yang tercita meniggalkan saya untuk selama-lamanya, namun hal ini tidak membuat hati saya gundah dalam mencari informasi tentang kegiatan ini, lewat informasi dari Instruktur, Fasilitator  dan CGP lainnya memberikan informasi tentang kanal yutuber tentang Webinar Nasional Pendidikan Guru Penggerak  Angkatan 4, Memaknai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, akhirnya saya bisa melihat ulang Yutube pada hari minggu tanggal 31 Oktober 2021, dalam kegiatan tersebut saya membuat banyak catatan  penting tentan pemikiran KHD untuk dapat di lalakukan di pada sat layanan Konseling di sekolah sesuai yang di sampaikan langsung oleh Majelis Luhur Perguruan Taman Siswa dan pengajar praktek lainnya.




Dari kegiatan ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, demonstrasi kontektual, webinar, saya banyak mendapatkan ilmu pengetahuan serta pengalaman baru terutama pada kegiatan diskusi kelompok di ruang kolaborasi, dalam kegiatan ini saya belajar untuk menyampaikan tangapan di ruang diskusi, sesuai dari kelompok kami memilih salah satu dari Profil Pelajar Pancasila yaitu Gotong-royong dimana dalam kegiatan diskusi ini banyak memberikan inspirasi pembelajaran untuk bisa di lakukan di sekolah masing-masing  




Dalam kegiatan ini kendala yang kami alami saat di Ruang Kolaborasi presentase berlangsung dari kelompok tidak jelas/putus-putus hal ini sebabkan karena hujan hal ini membuat jalan diskusi kurang normal, tetapi tidak membuat membuat kita semangat  terganggu. Hal yang membuat saya sedih saat kegiatan demonstrasi kontekstual karena setiap CGP wajib membuat karya teks atau verbal atau visual (video pendek), di mana pada saat kegiatan tersebuat berlangsung, saya mengami duka cita kakak tercinta saya meninggal dunia (serangan Jantung) tepat pada tanggal 28 Oktober 2021, dan tugas demonstrasi kontekstual harus di kumpul pada tanggal yang sama, tapi alhamdulliah akhir tugas tersebut selesai juga walaupun saya sementara dalam berduka, hal itupun berlanjut pada kegiatan esok harinya pada kegiatan Webinar Elaborasi Pemahaman saya tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena harus mengikuti prosesi pemakaman saudara saya yang tercinta, tapi hal ini tidak membuat semangat kendor dan tetap mencari informasi dari Instruktur dan fasilitator dan CGP tentang kegiatan tersebuat sehingga saya tidak ketinggal setiap kegiatan yang kmi lakukan di CGP angkatan 4, terima kasih untuk semua, atas kebaikannya.


JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 REFLEKSI MINGGU KE – 11

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 Jurnal Refleksi Minggu Ke - 10

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN

 JURNAL REFLEKSI MINGGU KE – 9